Kecepatannya mencapai 130GByte/detik, dan sudah terbukti stabil digunakan di banyak instalasi High Performance Computing, dan dapat melayain sampai 25 ribu komputer klien.
Training berdurasi 5 hari ini belangsung tanggal 12 - 16 October 2009 di Sun Microsystem Education Center, 4rd Floor, 71 Min Sheng East Road, Sector 3, Taipei, Taiwan, dengan instruktur Bapak Andry Hartawan. Mencari alamat di Taipei sangat mudah, plang di persimpangan menunjukkan arah nomor dan sektornya. Apalagi hotel Fullerton tempat menginap, hanya 5 menit berjalan kaki dari Training Center.
Di Taipei banyak sekali dijumpai pengendara sepeda, karena bicycle tracknya sangat panjang. Bahkan mereka berani bersepeda ditengah jalan raya.
Sepeda motorpun cukup banyak, namun 99% adalah jenis skutik. MRT dan busnyapun sangat nyaman dan murah. Tetapi taksi cukup mahal dibandingkan di Jakarta. Argo awalnya 70 Taiwan dollar (NTD), sekitar Rp 20.000,- Mungkin setara dengan taksi premium di Jakarta, karena memang taksinya bagus-bagus, seperti Toyota Wish dan Camry. Airport Limo ke bandaranya Mercedes S350 bisa dipesan dengan biaya 1400 NTD.
Peserta trainingnya 7 orang engineer dari customer dan Sun Microsystem Taiwan, dan 2 orang instruktur dari Sun Microsystem Taiwan. Bahasa pengantar yang digunakan Inggris, karena bahasa sehari-hari yang dipakai Taiwanese adalah Mandarin.
Sama seperti training di Indonesia, di Taiwan disediakan juga lunch dan coffee refreshments.
Lab yang digunakan remote lab yang berada di Broomfield Colorado USA, membahas instalasi dan konfigurasi Lustre, backup dan restore, troubleshooting, failover aktif/pasif untuk Management/Metadata Server dan failover aktif/aktif untuk Object Storage Server, menggunakan Heartbeat High Avalibility Software sebagai cluster servernya. Pada Heartbeat interface, perlu penyesuaian lab dengan lab setting yang ada, menggunakan unicast address.
Feedback dari Angela Chang, Sun Education Manager Asia Pacific: "Trust the training in Taiwan is OK".
Selesai mengajar, bisa naik ke Taipei 101, gedung tertinggi di Taiwan, yang memeiliki 101 lantai. Sempat juga sholat di Masjid Raya Taipei. Khutbahnya 2 bahasa, Arab dulu, baru Mandarin. Barangkali di Masjidlah yang ada tulisan berbahasa Indonesia. Bunyinya: Dilarang merokok ... Rupanya banyak warga negara Indonesia yang bekerja dan kuliah di Taipei. Di Masjid pun bisa membeli halal food, yang susah di cari di Taipei. Jadi sehari-hari makan ikan dan vegetarian food.
Taiwan sangat diminati wisatawan keturunan Tionghoa. Kebetulan ketemu teman instruktur Veritas dari Malaysia yang berlibur 10 hari di Taiwan, Chua Meng Soon. Have a nice vacation Chua. Hope you can teach at Optima again soon.
Beruntung juga punya kenalan warga negara Indonesia di Taipei yang bekerja di Imigrasi, ada yang menjamu dinner dan menemani jalan-jalan cari gadget. Terimakasih untuk Pak Deni dan keluarga, serta Pak Rheza dan teman-teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar